Tiga hari telah kulewati dengan
beban yang sangat berat jika aku ibaratkan bebanku ini seperti
"menggendong sapi sekaligus dengan gerobak nya " he he he he sedikit
lebay, tapi semua ini memang benar-benar beban yang begitu berat bagi murid
Madrasah Aliyah Negeri atau sederjat dengan SLTA yaitu menghadapi “ UN “ alias “
Ujian Nasional “ yang wajib diikuti semua murid dari pulau Sabang sampai
Merauke dari pulau Mengias sampai pulau Rote.
Dag dig dug deg dug dig, wah
pokok nya kebolak balik rasa panikku menhadapi ujian nasional ini, tinggal 1
hari lagi dari tanggal 20 Mei 2008, mau
nggak mau, sakit nggak sakit aku harus
mengahadapinya, doa dan permintaan maaf ku kepada semua orang yang aku kenal
merupakan salah satu restuku untuk keberhasilanku menghadapi Ujian Nasional
tahun ini.
Hari selasa,.. Kira kira waktu
tinggal 2 jam lagi menuju Ujian Nasional
akan segera di Ready… kan, ( sampai-sampai bahasanya campur aduk kayak tahu
campur). aku tidak bisa berbuat apa-apa melainkan mengeluarkan jurus terakhirku , berdoa dan yakin dengan
usahaku, teeettt....teeeeeeet...teeeeettt,... aku kaget dan panik dengan suara
bel yang begitu familiar ditelingaku,......mau nggak mau harus siap untuk memasuki ruangan yang dihadapkan dengan beberapa lembar kertas soal
Ujian diatas meja,....Wow “ sungguh menegangkan “ gumamku dalam hati. Nafas
panjang keteganganku “ uuuuuhuuufttt
…..” dan ucapan "Bismillah"
yang keluar dari mulutku adalah tanda dari awal dari semua ini,...rasa panikku,
keteganganku, ketakutan menjadi satu saat
melihat soal Ujian Nasional, tapi Alhamdulillah ternyata soal yang aku lihat
dan baca ternyata tidak sia-sia dengan usahaku selama ini saat aku
belajar,....keangkeran yang aku alami saat itu sekarang menjadi sebuah
keharmonisan, semua terasa menjadi mudah dan indah.
Hari kedua telah kulewati seperti
hari pertama Ujian Nasional sebalik nya dengan hari ketiga semua kulewati
dengan rasa yakinku, lega rasannya sudah melewati ini semua , setelah Ujian
sudah selesai, hari tanpa beban pun kini menghinggapiku makan, tidur, minum, nonton TV, main sama
temen, dll, nggak ada yang melarangku mau kesini, kesitu, kesono,kemana,
kesodok eh kok kesodok hehehehe, pokok nya apa aja lah nggak ada yang
menghiraukanku seolah- olah kayak orang ilang yang tidak punya keluarga.
Pengangguran
yang aku alami ternyata tak pernah aku
sadari karena asyiknya menghabiskan waktu hanya untuk kesenangan yang tidak ada beban dan tanggung jawab,
hilang begitu saja. inilah Awal dari sebuah beban yang sebenarnya beban yang aku alami
yaitu saat setelah selesai melewati momok Ujian Nasional ,...tak disangka
sangka momok satu ini lebih menakutkan daripada saat menghadapi Ujian Nasional
,….bukan saat penentuan Kelulusan atau Nilai yang akan keluar yang akan aku
terima tapi adalah apa yang aku lakukan setelah aku melepas seragam putih
abu-abu ini sungguh tragis yang aku alami setelah melepas baju ini dari
kehidupanku lagi. sudah terlahir dari Keluarga petani kelas Eks-konomi kebawah,
membuat diriku agak frustasi, rencana mau nglanjutin Perguruan tinggi orang tua
tidak punya uang, ikut Beasiswa di perguruan tinggi prestasi pas-pasan, “
huuuuftftftft “.beban yang aku rasakan adalah beban yang benar benar beban seperti " Patung ATLAS ",... 2
minggu setelah Ujian Nasional pengumuman dari sekolahan telah meyatakan bahwa
untuk kelas 3 tidak ada jadwal lagi berarti tidak ada pelajaran juga.
yang dulunya
nonton, main , seneng-seneng sama temen kini sirna bagaikan " panas
setahun turun hujan seharian" , akhirnya aku putuskan untuk mencari
pekerjaan tidak ada pilihan lagi karena keadaan keluargaku yang tidak mampu
menyekolahkanku, tapi apa yang bisa aku andalkan dari prestasiku semenjak aku
memakai putih abu-abu selama 3 tahun silam, padahal aku tidak begitu pandai dan
kreatif yang mempunyai ketrampilan lebih
di bandingkan anak-anak lulusan SMK, sungguh fana hidupku terasa seperti orang
bodoh sedunia yang tak mampu menciptakan peluang kerja, sedangkan temen-temenku
sudah satu demi satu mendapatkan pekerjaan salah satunya adalah
sahabat-sahabatku , Zanu ristiono, Dian Budiyanto, dan Shodikun hadi dulunya
yang sering menyontek PR matematikaku dan saat ada ulangan harian kini begitu
mudah mencari pekerjaan di bandingkan diriku yang dulu selalu bisa mengerjakan
PR Matematika.
Terus berusaha yang aku lakukan
sampai sampai aku menawarkan jasa kepada usaha rumah-rumah Produksi milik
tetanggaku,..2 minggu setelah aku di vonis sekolahanku tidak ada Jadwal untuk
masuk sekolah ,...tiba tiba ada kabar dari temenku bahwa pabrik yang tidak jauh
dari tempat tinggalku kira kira 200 meter, bahwa pabrik tersebut membutuhkan
karyawan,...beuhhhh rasanya seperti di tabrak tronton dan tidak merasa sakit
saat di tabrak (sakti banget),.....akhir nya aku mencari informasi dari temenku
itu pekerjaan apa yang di butuhkan oleh pabrik tersebut, Alhasil ternyata yang
dibutuhkan hanya seorang pengamplas kayu,...semakin pusing dengan
informasinya,...bingung bukan kepalang yang aku alami, akhirnya aku putuskan untuk sholat untuk menentukan
pilihan yang akan aku ambil dari pilihan ini , dalam hatiku berkata “ masa
lulusan SMA kerja nya hanya tukang Amplas kayu, menyedihkan “.
24 jam telah berlalu diantara
waktu itu aku sudah melakukan sholat untuk menentukan pilihan yang akan aku ambil,
sebenarnya aku benar-benar gengsi dengan peluang pekerjaan ini, 98 % yakin aku akan mudah mendapatkan pekerjaan ini
tapi di sisi lain aku akan ter-Cap menjadi orang terbodoh sedunia karena dengan
Ijazah yang aku miliki meskipun aku belum pasti dinyatakan LULUS oleh Wali
Kelas dan sekolahku….., akhirnya aku
memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu sebagai " tukang Amplas kayu
"sungguh tegannya Ijazah SLTA bekerja dengan pekerjaan serendah itu, '
dalam hati kecilku yang paling dalam-lam-lam', tapi keputusan yang aku ambil
adalah keputusan yang terbaik karena aku lebih yakin dengan sholatku karena “ ALLAH”.
hari pertama, menunggu di depan
pabrik seperti orang-orang yang bekerja
di pabrik, " CV.CANDI BARU",
namanya ,tiba-tiba aku tersentak dan kaget mendengar bunyi bel seperti bunyi
bel sekolahku yang terdengar dari dalam pabrik tersebut dan ternyata bel itu
adalah tanda dimulainya bekerja, sungguh mengenaskan pekerjaan ini, kotor dan bercampur
debu kayu hasil dari gergaji mesin mebuatku nggak tahan ingin segera mengakhiri
kerja di pabrik ini, tapi apa daya aku
sangat membutuhkan pekerjaan karena aku gengsi dengan temen-temenku yang sudah
meiliki pekerjaan, semua ini harus aku syukuri yang merupakan salah satu bentuk
tunduk dan taatku kepada sang “ILLAHI”, daripada orang yang diluar sana yang
lebih membesarkan gengsi karena pekerjaan yang begitu rendah dan tidak berharga
menurut mereka membuatku mendapatkan nilai positif dari keputusan yang aku
ambil ini meskipun tidak sebanding ijazah yang akan aku terima dari kelulusan
kelak. sudah 2 bulan berjalan pekerjaan yang aku geluti (emang pegulat :D),
ternyata aku adalah termasuk orang yang sabar menerima keadaan heheheheh,,…padahal
salah kaprah..prah.. prah ..prah… “ sabar “ itu adalah sebuah kebodohan tersendiri
buat diriku karena kesabaranku itu adalah tidak ada usaha dariku untuk mencari
pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan saat ini kalo untuk definisi keadaan
yang aku alami saat ini mungkin kata sabar banyak artinya tapi utuk kesabaranku
dalam menghadapi keadaan ini adalah sebuah kebodohan yang luar biasa, pusing
dan pusing yang aku alami membuat otakku
geram bagaimana yang harus aku lakukan untuk menutupi rendahnya strata
pekerjaan ini.
Tak disangka dan tak di duga saat
aku duduk di teras depan rumah
sendirian,… tiba-tiba tetanga samping rumah menghampiri dan tanpa basa-basi bercakap cakap denganku :,
Pak Wahidi : “ mam aku njalok
tulong sampean iso tah orak ngajari anakku sinau matematika“,..kalo di terjemahkan ke
bahasa Indonesia artinya “ mam aku minta tolong sama kamu, bisa atau tidak mengajari anakku belajar metematika
“.
Aku
: “ senyum dan kaget juga yang ada dalam benakku membuat diriku semakin
bingung, apa yang harus aku jawab dengan
sebuah pertanyaan yang membuat diriku menjadi bingung sendiri,… tanpa basa basi
aku langsung jawab pertanyaan beliau dan aku said : “ bukanne aku mboten purun,
pripun nggeh pak, kulo yo mboten pinter, terjemahannya (bukannya aku tidak
bisa, tapi gimana ya pak, aku itu tidak pintar) “ senyum pun aku layangkan ke
beliau dengan reflek sedikit kebingungan saat menjawab pertanyaan tersebut.
Pak wahidi : “lalu beliau ganti balik menjawab jawabanku
,…luar biasa ini beliau sudah dijawab,menjawab lagi heheheheheh langsung di
terjemahin aja lah kepanjangan kalo di bahasa jawa,…beliau says : “ lho kamu
kan pernah dapet ranking di sekolah kan mam, pasti kamu bisa ngajarin anakku “.
aku said
: “……oh itu mah cuman
rangking-rangkingan aja pak “ jawabku dalam sedikit senyum,. Dan saat itu pula aku memberi keputusan
kepada pak Wahidi ….., “ aku minta waktu dulu ya Pak “…,kata kata yang aku
berikan kepada pak wahidi yang membuat beliau
agak lemes mendengarnya.
Pak Wahidi : “……ya sudah lah mam.,
tapi usahakan ya mam,! Sedikit memaksa kepadaku.
Selang 2 minggu
akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kesempatan yang di tawarkan sama Pak
wahidi, setelah pulang kerja tepat pukul 16.00 WIB atau lebih tepatnya jam 4
sore, tanpa mampir kerumah aku langsung menemui pak wahidi di rumahnya dan
mengatakan “ Pak aku mau belajar sama anak bapak “, pak wahidi pun menjawab “
Alhamdulillah, ya udah ntar malam langsung saja gimana ? tanpa pertimbangan
lagi aku putuskan “ iya pak ”, akhir dari percakapan dalam mengambil sebuah
keputusan.
sungguh keputusan
yang riskan yang aku ambil karena posisiku adalah sebagai buruh pabrik tapi mau
gimana lagi, ini adalah kesempatan yang bagus
ibarat pepatah “ sambil menyelam minum Air “.
Alhamdulillah
semua itu aku lakukan kurang lebih satu tahun yaitu “ bekerja di pabrik sambil ngajarin anak orang “ heheheheh,…. Alasan
yang aku ambil dari ceritaku ini adalah bukan kegengsian atau rendah strata
pekerjaan yang aku miliki tapi adalah Ridlo dan Ikhlas dengan pekerjaan yang aku
miliki. pekerjaan Hina kalo di kerjakan dengan Ihklas pasti berujung dengan
Nyaman dibandingkan Pekerjaan di kantoran tapi nggak Ikhlas pasti berujung
menjadi beban.
Tetap semangat…kawan-kawan
!
Apik ceritanye...
BalasHapus~ Andryan STMIK ~
wuuuiiissssss anak STMIK Jayakarta nich yang komentarin.....hehehehhe
Hapus